PENYUSUNAN PTK SECARA KESELURUHANNYA



Text Box: Nama Guru :Samuel R. Mauhani. S.Pd
Mata Pelajaran:Etika Komunikasi
Kelas/sekolah : XI/ SMK Negeri 4 Makassar
Mata Pelajaran:


Sekolah :

A.    JUDUL

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar  Mata Pelajaran Etika Komunikasi  Melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe  Student Teams-Achievement Divisions (Stad) Pada Siswa  Kelas XI AP  SMK Negeri 4 Makassar

B.     LATAR BELAKANG MASALAH
Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran  pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.  Dalam konteks pembaruan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, yaitu pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektivitas metode pembelajaran. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif di kelas yang lebih dapat memberdayakan potensi siswa.
Salah satu komponen yang sangat menentukan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah komponen guru dengan segala kinerjanya.  Guru memegang peranan penting dalam suatu proses pembelajaran termasuk dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum (Mulyasa, 2006). Proses pembelajaran sebagai suatu aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa berkaitan langsung dengan aktivitas guru. Sebagai suatu sistem kegiatan, proses pembelajaran melibatkan guru mulai dari pemilihan dan pengurutan materi pembelajaran, penerapan dan penggunaan metode pembelajaran, penyampaian materi pembelajaran, pembimbingan belajar, sampai pada kegiatan pengevaluasian hasil belajar. Berkaitan dengan peran tersebut, suatu proses pembelajaran akan berlangsung secara baik jika dilaksanakan oleh guru yang  memiliki kualitas kompetensi akademik dan profesional yang memadai. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan diupayakan melalui peningkatan mutu guru. Selengkap apa pun prasarana dan sarana pendidikan, tanpa didukung oleh mutu guru yang memadai, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah.
Terdapat berbagai macam alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satu strategi yang bisa dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, dan pengololaan kelas. Model pembelajaran dapat didefenisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.   Model pembelajaran di bedakan menjadi model pembelajaran langsung, pembelajaran kooperatif dan pembelajaran berbasis masalah (Suprijono 2009: 46).
Hasil pengamatan peneliti di kelas XI AP  SMK Negeri 4 Makassar menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas selama ini yang terjadi cenderung menggunakan komunikasi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, sehingga siswa menjadi kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti berbagi gagasan dan pengalaman, bertanggung jawab terhadap tugas, kemauan menerima pendapat yang lebih baik, bertanya, dan mendatangkan “ahli” ke kelas, atau yang lebih buruknya adalah hasil belajar mereka yang mereduksi.
Akibat dari  ketidaktepatan penggunaan Strategi pembelajaran tersebut  menyebabkan rendahnya kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan konsep materi pelajaran, Oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan keterampilan kooperatif dan hasil belajar siswa baik secara individual maupun klasikal. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division (STAD). Model pembelajaran ini mempunyai gagasan agar siswa tergerak untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Tipe STAD ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut, yaitu persiapan materi, presentasi kelas, pembagian tim, mengerjakan kuis individual, pemberian skor kemajuan individual, dan rekognisi tim.
C.    PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut:
Apakah terjadi peningkatan hasil belajar mata pelajaran etika komunikasi Pada siswa kelas XI AP  SMK NEGERI 4 makassar Melalui pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division?
D.    TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas peneliti bertujuan Untuk Mengetahui Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Etika Komunikasi Pada Siswa Kelas XI AP  SMK Negeri 4 Makassar Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams-Achievement Division.

E.     MANFAAT PENELITIAN
  1. Siswa: meningkatkan keterampilan kooperatf dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran etika komunikasi. Diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih mengembangkan kecerdasannya. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menciptakan konsep kerja sama dan menumbuhkan kecintaan siswa untuk belajar.
  2. Guru: penelitian ini memberikan upaya solusi bagi guru dalam kegiatan penelitian tindakan kelas dalam rangka meningkatkan keterampilan kooperatif dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran etika komunikasi.
  3. Sekolah: meningkatkan hasil belajar juga akan meningkatkan citra sekolah di mata masyarakat dan profesionalisme guru
  4.  Pembaca: menambah pengetahuan dan dapat sebagai bahan perbandingan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan pembelajaran Kooperatif tipe student teams-achievement division

F.     KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
a.      Deskripsi kajian pustaka
  1. Pembelajaran kooperatif  (Cooperatif learning)
Ada beberapa istilah untuk menyebut pembelajaran berbasis sosial yaitu pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dan pembelajaran kolaboratif. Panitz membedakan kedua hal tersebut. Pembelajaran kolaboratiof didefenisikan sebagai falsafah mengenai tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Peserta didik bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak mengarahkan kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-bentik assesment oleh sesama peserta didik digunakan untuk melihat hasil prosesnya. Sedangkan Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikanb masalah yang dimaksud. Guru biasaya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. (Suprijono 2009: 54)
Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok (Sugandi, 2002:14).
Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif, siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir, serta mampu membangun hubungan interpersonal.
Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi proses kelompok. Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya: siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis; anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi; jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin; sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.
Terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam model pembelajaran kooperatif yaitu:
a)      Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma.
b)      Functioniong (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok.
c)      Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan.
d)     Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.

Model pembelajaran kooperatif tidak terlepas dari kelemahan di samping kekuatan yang ada padanya. Kelemahan tersebut antara lain terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam suatu strategi pembelajaran yang memang berbeda dengan pembelajaran yang selama ini diterapkan. Guru dapat secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut. Ketidaksiapan guru untuk mengelola pembelajaran demikian dapat diatasi dengan cara pemberian pelatihan yang kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk mencobakannya.Sementara itu, ketidaksiapan siswa dapat diatasi dengan cara menyediakan panduan yang memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi, serta deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan, sistem evaluasi, dsb. Kendala lain adalah waktu. Strategi pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel, meskipun untuk topik-topik tertentu waktu yang diperlukan mungkin cukup dua kali tatap muka ditambah dengan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran.  (http://www.slideshare.net/arif08/pembelajaran-kooperatif-6726162)

2.      Student Teams-Achievement Divisions  (Stad)
Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawanya di Universitas Jhon Hopkins. Metode ini di pandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pembelajaran kooperatif. Tipe ini digunakan untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik, kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama anggota kelompok. Secara individual atau kelompok, tiap minggu atau dua minggu dilakukan  evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. (Kunandar, 2011: 370)
Slavin (2005) menjelaskan bahwa salah satu keluaran non kognitif yang dihasilkan dari pengalaman kooperatif di sekolah adalah bahwa para siswa akan menjadi lebih kooperatif dan altruistik. Salah satu pengukuran yang sering digunakan dari preferensi terhadap altruisme atau kooperasi sebagai kebalikan dari maksimalisasi individu atau kompetisi adalah papan yang dirancang oleh Kagan dan Madsen (1972) di mana para siswa mengalokasikan penghargaan kepada teman. Pilihan-pilihan yang dihadapkan kepada para siswa adalah memberikan si “teman” tersebut lebih banyak penghargaan (altruisme), jumlah penghargaan yang sama (setara), atau penghargaan yang lebih sedikit (kompetisi) daripada yang diterima dirinya sendiri. Banyak para ahli yang meneliti bahwa siswa yang sering mengikuti Investigasi  Kelompok akan membuat pilihan altruisme yang banyak, selain itu juga ketika mereka ditempatkan dalam kelompok kooperatif yang baru, maka kerjasama yang terjalin jadi jauh lebih baik serta menghasikan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari kelas kontrol. Penemuan ini menganjurkan bahwa pembelajaran yang kooperatif dapat mengembangkan perilaku semacam perilaku prososial yang semakin dibutuhkan di dalam masyarakat di mana kemampuan bergaul dengan orang lain menjadi semakin krusial. Pengaruh secara keseluruhan dari pembelajaran kooperatif pada rasa harga diri siswa, dukungan kelompok terhadap pencapaian prestasi, lokus kontrol internal, waktu mengerjakan tugas, kesukaan pada kelas dan teman sekolah, kekooperatifan, dan variabel lainnya adalah positif dan sangat kuat.
Langkah-langkah dalam model pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions  (Stad) sebagi berikut:
a)      Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
b)      Guru menyajikan pelajaran
c)      Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d)     Guru memberi kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
e)      Memberi evaluasi
f)       Kesimpulan (Suprijono 2009: 133)

  1.  Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:
a)      Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
b)      Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasi, kemampuan analisis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
c)      Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkanb aktivitas kognitifnya sendiri. Kemmpuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d)      Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukanb serangkaian gerak jasmani dalam urusan koordinasi sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e)      Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku (Suprijono, 2009: 6).


b.      Kerangka berfikir
Perdasarkan permasalahan yang ada dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesi sebagai berikut:
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Etika Komunikasi   Pada Kelas XI AP SMK Negeri 4 Makassar,  Jika Digunakan Model Kooperatif Tipe  Student Teams-Achievement Divisions  (Stad)
G.    METODE PENELITIAN
1.    SETTING DAN SUBJEK PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI AP  SMK Negeri 4 Makassar yang berjumlah 40 orang siswa yang terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 23 orang siswa perempuan. Penelitian ini akan dilaksanakan di SMK N 4 Makassar yang beralamat di Jalan PETERAN UTARA pada bulan FEBRUARI sampai MEI 2017

2.    RENCANA TINDAKAN
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan maka proses pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions  (Stad). Penelitian ini akan dilaksanakan  dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari perencanaan, tindakan, penerapan tindakan, observasi, refleksi. Skema langkah-langkah PTK sebagai berikut:
SIKLUS I
3.      PERSIAPAN
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
a)      Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam PTK.
b)      Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai
c)      Membuat  soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pemebelajaran siswa.
d)     Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis kelamin,maupun etnis.
e)      Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan

4.    PELAKSANAAN TINDAKAN
a)      Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain). Mintalah anggota kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok.
b)       Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.
c)      Guru menyajikan pelajaran
d)     Bagikan lembar kegiatan siswa.
e)      Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan itu.
f)       Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru.
g)      Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.
h)      Kuis, Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.
i)        Penghargaan Kelompok, Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.
j)        Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

5.    EVALUASI DAN REFLEKSI
Selama melakukan tindakan kelas, maka dilakukan observasi oleh observer (guru mitra dan teman sejawat) tentang keterlaksanaan RPP, keterampilan mengelola pembelajaran dan keterampilan kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung, setelah proses pembelajaran, siswa diberikan angket respon terhadap proses pembelajaran model kooperatif tipe STAD.

SIKLUS II
Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya sama dengan pada siklus I  hanya saja perencanaan kegiatan mendasarkan pada hasil refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah pada perbaikan pada pelaksanaan siklus I.
1)      Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
a)       Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam PTK.
b)       Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai
c)       Membuat  soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pemebelajaran siswa.
d)       Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis kelamin,maupun etnis.
e)       Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan
2)      Pelaksanaan Tindakan
a)       Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan penelitian, guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk belajar etika  komunikasi secara kooperatif learning dengan model Student Teams-Achievement Divisions  (Stad). Adapun langkah – langkah yang dilakukan adalah:
1.      Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen. Mintalah anggota kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok.
2.      Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.
3.      Guru menyajikan pelajaran
4.      Bagikan lembar kegiatan siswa.
5.      Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan itu.
6.      Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru.
7.      Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.
8.       Kuis, Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.
9.      Penghargaan Kelompok, Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.
b)       Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
3)      Observasi
Selama melakukan tindakan kelas, maka dilakukan observasi oleh observer (guru mitra dan teman sejawat) tentang keterlaksanaan RPP, keterampilan mengelola pembelajaran dan keterampilan kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung, setelah proses pembelajaran, siswa diberikan angket respon terhadap proses pembelajaran model kooperatif tipe STAD.

4)      Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh. Hasil analisis data yang telah ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.

d.      Kriteria keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata dari tes hasil belajar mata pelajaran etika komunikasi setelah siklus I maupun siklus II. Dari tes hasil belajr siswa, dilakukan analisa ketuntasan secara individual. Siswa secara individual dikatakan telah tuntas belajar, apabila rata-rata ketercapaian indikator yang mewakili tujuan pembelajaran memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran ETIKA KOMUNIKASI di SMKN 4 Makassar yang ditetapkan sebesar 70. Keberhasilan dari model pembelajaran ini dilihat dari persentase jumlah siswa yang tuntas belajar sebesar 80% dari seluruh jumlah siswa.

6.   TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
a.         Wawancara
Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan yang dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
b.         Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berpikir siswa yang terdiri dari beberapa deskripsi yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh 2 orang observer.
c.         Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk multiple choise dan uraian agar banyak materi tercakup.
d.        Dokumentasi
Teknik ini digunakan untuk mengdokumentasikan pelaksanaan penelitian berupa gambar-gambar untuk mendukung terpenuhinya sumber data yang meliputi aktivitas guru saat mengajar dan aktivitas siswa saat pembelajaran dan diskusi.

7.    TEKNIK PENGOLAHAN DATA
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti melakukan analisis data hasil belajar peserta didik dengan menggunakan teknik analisa deskriptif yang menggunakan penghitungan sebagai berikut:
1.      Melakukan tabulasi data untuk menghitung persentasinya yang menggunakan rumus:
Jumlah skor tiap soal
                                                X 100
Skor ideal
Kriteria Penilaian adalah:
91 – 100  = Amat Baik
75 – 90    = Baik
60 – 74    = Cukup
40 – 59   = Kurang
≤40         = Sangat Kurang     
8.    INSTRUMEN PENELITIAN
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
a.       Wawancara
Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan yang dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
b.      Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berpikir siswa yang terdiri dari beberapa deskripsi yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh 2 orang observer.
c.       Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk multiple choise dan uraian agar banyak materi tercakup.
d.      Dokumentasi
Teknik ini digunakan untuk mengdokumentasikan pelaksanaan penelitian berupa gambar-gambar untuk mendukung terpenuhinya sumber data yang meliputi aktivitas guru saat mengajar dan aktivitas siswa saat pembelajaran dan diskusi.

H.    JADWAL PENELITIAN

Uraian Kegiatan
Bulan Ke
I
II
III
IV
Persiapan umum
















Pelaksanaan Siklus I
















Pelaksanaan Siklus II
















Pelaksanaan Siklus III
















Analisis Data
















Penyusunan Laporan
















Penggandaan dan Pengiriman Laporan

















 I.      DAFTAR PUSTAKA

Kunandar. 2011. Guru Profesional. Jakarta: Rajawali Pers
Mulyadin, andi 2014. Upaya meningkatkan hasil belajar  mata pelajaran sejarah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe   Student teams-achievement divisions  (stad) pada Siswa Kelas xi ips 1 SMA Negeri 5 Makassar
J.       PERSONALIA PENELITIAN
K.    RENCANA PEMBIAYAAN
L.     LAMPIRAN
e.       Hasil belajar siswa
f.       Daftar hadir siswa
g.      Foto kegiatan belajar siswa
Catatan: Setiap komponen proposal tersebut, perlu mendapatkan penjelasan yang proporsional dengan mempertimbangkan substansi masalah penelitian. Komponen/unsur dalam proposal PTK bisa berbeda nama dan urutannya menurut lembaga yang mensponsori pelaksanaanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PTK LK3 PEMBUATAN RUMUSAN MASALAH

PTK LK 4

PTK LK 2